Berdasarkan
hasil uji multikolinearitas diatas, dapat dilihat pada tabel Coefficients (nilai tolerance dan VIF). Dari output
dapat diketahui bahwa nilai VIF kurang dari 10 dan nilai tolerance lebih dari
0,1 atau mendekati satu untuk kedua variabel, maka dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi masalah multikolinearitas.
Senin, 15 Januari 2018
UJI Normalitas data
Uji persyaratan analisis data penelitian ini dilakukan melalui uji
normalitas. Uji normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data yang
dperoleh dari hsil penlitian berdistribusi normal atau tidak. Hal ini dilakukan
untuk mempermudah perhitungan dan analisis data yang dperoleh dri lapangan. Berdasarkan
hasil uji normalitas dengan menggunakan metode grafik Normal P-P plot of regression standardized residual dapat diketahui
bahwa titik-titik menyebar sekitar garis lurus dan mengikuti garis diagonal,
maka data tersebut berdistribusi normal, dapat dilihat gambar berikut:
Karena titik-titik menyebar sekitar garis lurus dan mengikuti garis diagonal,
maka data tersebut berdistribusi normal.
Contoh cara lain dengan menggunakan kolmogorov Smirnov (KS):
Dari hasil analisis tersebut, terlihat bahwa
nilai signifikansi untuk masing-masing variabel lebih besar dari 0.05, maka
dapat disimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut memenuhi kriteria normal.
Validitas isi menggunakan rumus Gregory
Dalam
Validitas isi berbagai cara yang dapat digunakan yang tujuannya adalah untuk
melihat kesepakatan dari 2 pakar atau lebih dalam menilai keseluruhan konten. Menurut Gregory (2000) validitas isi menunjukkan
sejauhmana pertanyaan, tugas atau butir dalam suatu tes atau instrumen mampu
mewakili secara keseluruhan dan proporsional perilaku sampel yang dikenai
perlakuan tersebut. Artinya instrument yang ada mencerminkan keseluruhan konten
atau materi yang diujikan atau yang seharusnya dikuasai secara proporsional.
Cara Analisis validitas isi oleh 2 pakar/expert
dengan menggunakan rumus Gregory
(Kolom D dibagi dengan A+B+C+D) atau
dengan bantuan tabel tabulasi silang 2x2
seperti dibawah ini:
dengan bantuan tabel tabulasi silang 2x2
seperti dibawah ini:

Contoh hasil Rekap hasil penilaian dari 2 Pakar/expert:
Rater 1
|
Rater 2
|
3
3
4
4
3
4
4
4
4
4
|
3
3
4
4
4
4
2
4
3
4
|
Berdasarkan
hasil penilaian pakar diatas, selanjutnya dimasukkan kedalam kolom tabulasi
silang 2x2 dibawah ini:
Rater 1
|
Rater 2
|
Dari tabulasi silang
|
3
3
4
4
3
4
4
4
4
4
|
3
3
4
4
4
4
2
4
3
4
|
D
D
D
D
D
D
B
D
D
D
|
Berdasarkan
hasil tabulasi silang 2x2 di atas maka
selanjutnya dimasukkan kedalam rumus Gregory
maka hasilnya
= 0,9. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa instrument ini memenuhi criteria validitas isi kategori
sangat tinggi.
maka hasilnya
= 0,9. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa instrument ini memenuhi criteria validitas isi kategori
sangat tinggi. Selasa, 11 Desember 2012
Analisis Reliabilitas Butir Soal Dengan Metode Kuder-Richardson (KR20)
Adapun formula rumus KR20 adalah:
r KR20 =
Koefisien korelasi dengan KR20
k = jumlah butir soal
p = proporsi
jawaban benar pada butir tertentu
q = proporsi jawaban salah pada butir tertentu (
q = 1 – p )
s2 =
varians skor total
Untuk menghitung harga p dan q sama dengan yang telah
diuraikan pada pembahasan validitas butir instrumen. Sedangkan s2
(varians ):
Sebagai contoh data hasil penilaian:
Selanjutnya>>>
Skor rata-rata total.
ΣXt 56
X =
----------- = -------
= 5,6
N 10
Menghitung varians total.
Σ X2
332
s2 =
-------- - X2 = ----------
- ( 5,6 )2 = 1,84
N 10
Menghitung reliabilitas dengan KR20:
k Σpq
r KR20 = ----------- (1 - --------- )
k –
1 s2
10 2,00
r KR20 = ----------- (1 - --------- )
10 – 1 1,84
r KR20 = 1,11 (- 0,087)
= - 0,097
Kesimpulan:
Koefisien korelasi
berada antara 0 – 1. Suatu instrumen penilaian dikatakan reliabel jika
koefisien korelasinya ≥ 0,6, makin tinggi koefisien korelasi makin reliabel
instrumen tersebut, dan sebaliknya. Instrumen penilaian yang kita jadikan
contoh termasuk kategori instrumen yang kurang baik karena tidak reliabel.
Untuk menjadikan instrumen tersebut reliabel maka validitas butir yang tidak
baik dibuang atau diganti. Instrumen yang valid pasti reliabel, tetapi
instrumen yang reliabel belum tentu valid.
PENGANTAR RELIABILITAS BUTIR SOAL
Reliabilitas biasa juga disebut keterandalan atau kemantapan
suatu instrumen yakni sejauh mana instrumen mampu menghasilkan skor-skor hasil
penilaian yang stabil dan konsisten.
Secara
umum empat cara yang sering digunakan untuk mengetahui indeks reliabilitas
instrumen:
- Metode tes ulang (test – retest),
- Metode
belah dua (split half),
- Metode
paralel (parallel form), dan
- Metode Kuder-Richardson20-21.
- Metode Kuder-Richardson ( KR20-21 )
Penggunaan metode test-retest,
split half, atau paralel mempunyai kelemahan yang perlu ditanggulangi.
Test-retest bisa menimbulkan bias karena tes yang dilakukan merupakan
pengulangan untuk tes yang sama. Split half dan paralel kendalanya adalah sukar
menentukan pasangan soal yang sama misalnya pada pembagian antara nomor genap
dan ganjil atau pada penyusunan pasangan soal yang seimbang. Untuk mengatasi hal tersebut
Kuder-Richardson mengembangkan teknik lain yaitu mengkorelasikan skor-skor
setiap butir soal dengan skor total keseluruhan instrumen. Indeks
reliabilitasnya termasuk koefisien konsistensi internal.
Untuk
mengetahui indeks reliabilitas instrumen, dengan metode tes ulang (test –
retest), metode belah dua (split half), dan metode paralel (parallel
form), dapat digunakan teknik Pearson
Product Moment Correlation.
Selanjutnya, untuk KR20 atau
KR21, skor setiap butir dikorelasikan dengan skor total semua butir soal dalam
instrumen. Metode ini digunakan untuk data diskrit . Data diskrit adalah
butir soal yang dapat diberi skor 1 untuk jawaban betul dan skor 0 untuk
jawaban yang salah.
CARA MANUAL ANALISIS VALIDITAS Butir Soal Bentuk Objektif
1. Validitas
instrumen adalah tingkat kemampaun suatu instrumen mengukur apa yang seharusnya
diukur, khususnya dalam proses pembelajaran
2. Dari
segi analisis validitas dibagi atas validitas rasional dan validitas empirik
3. Validitas
rasional terdiri atas validitas isi (content) dan validitas bangun (construct)
4. Validitas
empiris terdiri atas valditas ramalan (predictive) dan validitas bandingan
(concurrent )
5. Validitas
rasional dapat dianalisis secara rasio melalui GPPP dan panel, sedangkan
valitas empirik dianalisis secara statistik
6. Validitas
butir secara statistik dianalisis berdasakan jenis data yang terkumpul. Data
diskrit (misalnya hasil tes obyektif) dihitung dengan korelasi point
biserial sedangkan data kontinu (misalnya hasil tes
uraian atau skala sikap) digunakan korelasi Pearson
product – moment.
Persiapan
Perhitungan Validitas (Korelasi Point Biserial):
- ΣXt = 97 ΣXt2 = 703
- Nilai p = jumlah yang menjawab benar pada butir tertentu dibagi jumlah siswa (pada butir 1, misalnya, yang menjawab benar 7 orang, berarti p = 7/ 15 = 0,47)
- q = 1 – p ( pada butir 1; q = 1 – 0,47 = 0,53)
- Demikian seterusnya >>> sehingga didapatkan nilai p dan q seperti pada tabel di atas.
Menghitung
rata-rata skor total:
ΣXt 97
Mt =
----------- = -------
= 6,46
N 15
Menghitung Mp
setiap butir soal (rata-rata hitung dari skor total yang dijawab dengan betul):
Contoh Pada Butir
1:
Jumlah yang
menjawab betul 7 orang (siswa No. 3, 5, 11, 12, 13, 14, 15), sedangkan skor
total setiap siswa adalah 5 + 8 + 8 + 9 + 8 + 7 + 12 = 57.
• Jadi Mp = 57/7 = 8,14.
Contoh berikutnya
untuk butir 10:
Jumlah yang
menjawab benar juga 7 orang (siswa No. 1, 2, 5, 6, 11, 12, dan 15). Skor total
setiap siswa adalah: 4 + 7 + 8 + 4 + 8 + 9 + 12 = 52
• Jadi Mp = 52/7 = 7,43.
Ternyata meskipun
yang menjawab benar pada butir tertentu sama jumahnya, tetapi Mp
tidak sama, karena besarnya Mp ditentukan pula oleh skor total siswa
yang menjawab benar pada butir tersebut.
Menghitung
standar deviasi total dengan menggunakan rumus:
Menghitung validitas butir soal dengan rpbis (korelasi point
biserial):
Makin
tinggi koefisien korelasi yang dimiliki makin valid butir instrumen tersebut.
Secara umum, jika koefisien korelasi sudah lebih besar dari 0,3 maka butir
instrumen tersebut sudah dikategorikan valid (Weiresma and Jurs, 1990).
CARA MANUAL ANALISIS VALIDITAS Butir Soal Bentuk Uraian
- Validitas instrumen adalah tingkat kemampaun suatu instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur, khususnya dalam proses pembelajaran
- Dari segi analisis validitas dibagi atas validitas rasional dan validitas empirik
- Validitas rasional terdiri atas validitas isi (content) dan validitas bangun (construct)
- Validitas empiris terdiri atas valditas ramalan (predictive) dan validitas bandingan (concurrent )
- Validitas rasional dapat dianalisis secara rasio melalui GPPP dan panel, sedangkan valitas empirik dianalisis secara statistik
- Validitas butir secara statistik dianalisis berdasakan jenis data yang terkumpul. Data diskrit (misalnya hasil tes obyektif) dihitung dengan korelasi point biserial sedangkan data kontinu (misalnya hasil tes uraian atau skala sikap) digunakan korelasi Pearson product – moment.
Rumus korelasi
Pearson product – moment
Contoh persiapan perhitungan soal uraian/ interval:
Tabel untuk
menghitung korelasi product moment antara butir 01 (X1) dengan skor
total semua jawaban siswa ( Y ):
Menghitung
validitas butir 2 (sama dengan butir 1)
Keterangan:
Makin tinggi
koefisien korelasi yang dimiliki makin valid butir instrumen tersebut. Secara
umum, jika koefisien korelasi sudah lebih besar dari 0,3 maka butir instrumen
tersebut sudah dikategorikan valid (Weiresma and Jurs, 1990). Cara
lain, dengan mencocokkan koefisien korelasi yang diperoleh dengan nilai tabel
yang tersedia (terlampir) sesuai dengan jumlah siswa / responden yang
mengerjakan instrumen yang dianalisis. Jika koefisien korelasi yang diperoleh (
rhitung ) lebih besar dari nilai tabel ( rtabel
) maka butir tersebut valid.
Langganan:
Postingan (Atom)




















