Kecakapan fisik khusus meliputi
keterampilan-keterampilan ekspresi verbal (pernyataan lisan) dan nonverbal
(pernyataan tindakan) terutama saat pembelajaran berlansung. Dalam hal ini
merefleksikan ekspresi verbal, seseorang dituntut untuk terampil, fasih dan
lancar berbicara dalam menyampaikan pendapat maupun menyanggah pendapat, secara
lebih lugas seseorang dapat berkomunikasi dengan baik. Sedangkan keterampilan
ekspresi nonverbal yang harus dikuasai adalah seseorang dapat menggunakan
segenap anggota badannya untuk tujuan tertentu dalam menyelesaikan tugas yang
menjadi tanggung jawabnya. Dalam hal ini seperti halnya mereka dapat menggunakan
jari-jemari tanggannya untuk mengoperasikan alat-alat tertentu secara akurat.
Jumat, 21 September 2012
Pembelajaran Psikomotor dan Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja tidak dapat dipisahkan dari
proses pembelajaran psikomotor. Guru harus menjelaskan keselamatan kerja kepada
peserta didik dengan sejelas-jelasnya. Oleh karena kompetensi kunci dan
keselamatan kerja merupakan dua hal penting dalam pembelajaran keterampilan,
maka dalam penilaian kedua hal itu harus mendapatkan porsi yang tinggi. Kompetensi
psikomotor merupakan keterampilan atau kemampuan dari kawasan karsa yang
pelaksanaannya berhubungan dengan tugas-tugas seseorang terutama kawasan karsa
yang berhubungan langsung dengan bidang yang menjadi tanggungjawabnya.
Mengoptimalkan Hasil Belajar dan Langkah-langkah Mengajar Psikomotor
Gagne (dalam Muslich 2011:147)
berpendapat bahwa kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan
ada dua macam, yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal. Untuk kondisi
internal dapat dilakukan dengan cara-cara seperti (a) mengingatkan kembali
bagian dari keterampilan yang sudah dipelajari, dan (b) mengingatkan prosedur
atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasai. Sementara itu, untuk kondisi
eksternal dapat dilakukan dengan (a) instruksi verbal, (b) gambar, (c)
demonstrasi, (d) praktik, dan (e) umpan balik. Dalam melatihkan kemampuan
psikomotor atau keterampilan gerak ada beberapa langkah yang harus dilakukan
agar pembelajaran mampu membuahkan hasil yang optimal.
Mills (dalam Muslich 2011:147)
menjelaskan bahwa langkah-langkah dalam mengajar praktik yaitu: (a) menentukan
tujuan dalam bentuk perbuatan, (b) menganalisis keterampilan secara rinci dan
berurutan, (c) mendemonstrasikan keterampilan disertai dengan penjelasan
singkat dengan memberikan perhatian pada butir-butir kunci termasuk kompetensi
kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan dan bagian-bagian yang
sukar, (d) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mencoba melakukan
praktik dengan pengawasan dan bimbingan, (e) memberikan penilain terhadap usaha
peserta didik.
Edwardes (dalam Sudrajat 2008)
menjelaskan bahwa proses pembelajaran praktik mencakup tiga tahap yaitu (a)
penyajian dari pendidik, (b) kegiatan praktik peserta didik dan (c) penilaian
hasil kerja peserta didik. Guru harus menjelaskan kepada peserta didik
kompetensi kunci yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas tertentu. Kompetensi
kunci merupakan kemampuan utama yang harus dimiliki seseorang agar tugas atau
pekerjaan dapat diselesaikan dengan cara benar dan hasilnya optimal.
Sebagai contoh, dalam memukul bola,
kompetensi kuncinya yaitu kemampuan peserta didik menempatkan bola pada titik
ayun. Dengan cara ini, tenaga yang dikeluarkan hanya sedikit namun hasilnya
optimal. Contoh lain, dalam mengendorkan mur dari bautnya, kompetensi kuncinya
adalah kemampuan peserta didik memegang kunci pas secara tepat yakni di ujung
kunci. Dengan cara ini tenaga yang dikeluarkan untuk mengendorkan mur jauh
lebih sedikit bila dibandingkan dengan pengendoran mur dengan cara memegang
kunci pas yang tidak tepat. Dalam proses pembelajaran keterampilan, keselamatan
kerja tidak boleh dikesampingkan, baik bagi peserta didik, bahan, maupun alat.
Pembelajaran Psikomotor di SMK
Pengajaran psikomotor merupakan
suatu proses pembelajaran yang membentuk kemampuan psikomotor siswa dalam
melakukan tindakan. Hal ini sangat penting dan cocok pada sekolah tingkat
menengah kejuruan, karena secara garis besar pembelajaran dan kurikulum di
sekolah kejuruan lebih menitik beratkan kepada aspek keterampilan peserta
didik.
Djohar (dalam Upi 2011:10) menjelaskan bahwa teknik pengajaran untuk
membentuk kemampuan psikomotor siswa dipertimbangkan melalui beberapa teknik
pemberian latihan dengan memperhatikan prinsip-prinsip, seperti: (1) latihan
akan efesien jika disediakan lingkungan yang sesuai dengan tempat dimana siswa
kelak akan bekerja atau melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, (2)
latihan akan efektif hanya dapat diberikan jika tugas-tugas yang diberikan
memiliki kesamaan operasional dan peralatan yang akan digunakan dalam
menyelesaikan pekerjaannya kelak, (3) latihan sudah dibiasakan dengan perilaku
yang akan ditunjukkan dalam pekerjaannya kelak, (4) latihan akan efektif
apabila pemberian latihan berupa pengalaman khusus yang terwujud dalam
kebiasaan-kebiasaan yang benar, (5) latihan diarahkan pada pencapaian
kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sehingga dapat melaksanakan suatu
pekerjaan.
Mills (dalam Sudrajad 2008) pembelajaran keterampilan akan efektif bila dilakukan dengan menggunakan prinsip
belajar sambil mengerjakan (learning by doing). Keterampilan yang
dilatih melalui praktik secara berulang-ulang akan mejadi kebiasaan atau
otomatis dilakukan. Sementara itu Goets (dalam Sudrajad 2008) dalam
penelitianya melaporkan bahwa latihan yang dilakukan secara berulang-ulang akan
memberikan pengaruh yang sangat besar pada pemahiran keterampilan. Lebih lanjut
dalam penelitian itu dilaporkan bahwa pengulangan saja tidak cukup menghasilkan
prestasi belajar yang tinggi, namun diperlukan umpan balik yang relevan yang
berfungsi untuk memantapkan kebiasaan. Sekali berkembang maka kebiasaan itu
tidak pernah mati atau hilang.
Latar Belakang Penilaian Psikomotor di Sekolah
Berkaitan dengan postingan sebelumnya>>
Perangkat penilaian psikomotor yang baik adalah yang dapat menilai kemampuan seseorang dengan kesalahan penilaian yang sekecil-kecilnya dan secara adil dan
transparan. Oleh karena
itu diperlukan sistem penilaian yang adil yang memberikan perlakuan yang
mempertimbangkan kompetensi untuk semua siswa, sehingga siswa yang mempunyai
kompetensi yang sama akan memperoleh nilai dan skor yang sama, pada skala ukur
dan penilaian yang sama. Siswa yang pandai akan mempunyai nilai lebih
baik daripada siswa yang kurang pandai.
Dengan demikian variasi skor dan nilai yang diperoleh menggambarkan variasi
kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran yang telah diajarkan, sehingga
diperlukan suatu teknik penilaian yang baik dan benar.
Mengacu pada Pasal 25 (4) Peraturan
Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
menjelaskan bahwa kompetensi lulusan mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Ini berarti bahwa pembelajaran dan penilaian seyogyanya mengembangkan
kompetensi peserta didik yang berhubungan dengan ranah afektif (sikap),
kognitif (pengetahuan), dan psikomotor (keterampilan).
Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional (Permendiknas) Nomor 20 Tahun 2007 menyebutkan bahwa salah satu
prinsip penilaian adalah menyeluruh dan berkesinambungan. Hal ini berarti bahwa
penilaian oleh guru mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai
teknik penilaian yang sesuai untuk memantau perkembangan kemampuan peserta
didik. Cakupan aspek penilaian yang dimaksud adalah aspek kognitif
(pengetahuan), aspek psikomotor (keterampilan), dan aspek afektif (sikap).
Penilaian yang Adil Dalam Pembelajaran
Dalam evaluasi pendidikan, ada
empat komponen yang saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan yaitu tes, pengukuran, penilaian dan evaluasi. Kualitas
pembelajaran dapat dilihat dari hasil ke empat komponen tersebut di atas,
utamanya sistem tes yang diterapkan untuk mendapatkan hasil belajar siswa,
karena sistem tes dan penilaian yang baik akan mondorong siswa dalam
meningkatkan motivasi dan prestasi dalam pembelajaran. Namun, pada pelaksanaan penilaian hasil belajar sering terjadi ketidakadilan
pengukuran yang dilakukan oleh guru, baik dari alat ukur yang digunakan maupun
penyelenggaraannya. Kemampuan guru dalam membuat evaluasi belajar menempati
posisi awal bagi peningkatan kualitas pembelajaran.
Nilai yang diperoleh dari hasil tes hendaknya tidak dijadikan tujuan utama bagi siswa dalam belajar akan tetapi tes dapat digunakan sebagai sarana peningkatan motivasi untuk belajar bagi siswa (Azwar,1996:15). Untuk itu, dalam melakukan penilaian hasil belajar haruslah dilakukan dengan cara adil bagi semua peserta didik karena data yang diperoleh dengan cara yang tidak adil, tidak dapat memberikan informasi untuk mengetahui prestasi siswa yang sebenarnya, dan hasil penilaian seperti itu dapat memberikan informasi yang keliru mengenai keberhasilan belajar siswa dan menurungkan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mempersiapkan perangkat penilaian yang sahih dan handal, serta berlaku adil dalam mengevaluasi keberhasilan belajar para siswa.
Nilai yang diperoleh dari hasil tes hendaknya tidak dijadikan tujuan utama bagi siswa dalam belajar akan tetapi tes dapat digunakan sebagai sarana peningkatan motivasi untuk belajar bagi siswa (Azwar,1996:15). Untuk itu, dalam melakukan penilaian hasil belajar haruslah dilakukan dengan cara adil bagi semua peserta didik karena data yang diperoleh dengan cara yang tidak adil, tidak dapat memberikan informasi untuk mengetahui prestasi siswa yang sebenarnya, dan hasil penilaian seperti itu dapat memberikan informasi yang keliru mengenai keberhasilan belajar siswa dan menurungkan motivasi siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus mempersiapkan perangkat penilaian yang sahih dan handal, serta berlaku adil dalam mengevaluasi keberhasilan belajar para siswa.
Selasa, 18 September 2012
Penulisan Artikel Ala Tonny
Oleh. Tonny D. Widiastono
Artikel,
merupakan pergulatan pemikiran dari seorang ahli atas masalah yang
sedang berkembang di masyarakat. Harian KOMPAS, merasa perlu menyediakan
ruang tersendiri guna menampung pergulatan pemikiran yang muncul di
masyarakat, dan diharapkan bisa berdampak bagi yang lain. Maka, KOMPAS,
menempatkan artikel sebagai intellectual exercise (asah
intelektual). Rubrik artikel KOMPAS, bukan dimaksudkan untuk mencari
nama, pun bukan dimaksudkan untuk (maaf) mencari uang. Maka artikel
yang dimuat harian KOMPAS, diharapkan ditulis oleh ahlinya. Untuk itu,
kepada para penulis, diharapkan juga mengirimkan riwayat hidup dan
keahlian atau kompetensinya. Dengan demikian, KOMPAS bisa melihat
dengan jelas, kompetensi seseorang ketika menuliskan artikelnya.
Langganan:
Postingan (Atom)